Kamis, 09 Oktober 2008

KISAH PENJUAL TEMPE


Di sebuah kampung pedalaman Jawa, ada seorang wanita tua yang begitu mengasihi Tuhan. Ia adalah seorang penjual tempe dan ia membuatnya sendiri setiap hari untuk dijual setiap pagi.

Suatu saat wanita itu menyadari kalau tempe yang ia buat belum benar-benar jadi tempe, masih kedelai setengah jadi. Ia menjadi begitu sedih, karena tempe yang setengah jadi tidak akan laku dijual.

Namun ia teringat kepada Tuhan dan berdoa agar menjadi mujizat."Tuhan, aku mohon agar kedelai ini menjadi tempe. Amin." Dia begitu yakin dengan doanya dan segera melihat hasilnya. Ternyata kedelai itu tetap sama. Tetapi ia tidak putus asa.

Wanita itu lalu menumpangkan tangannya, mengangkat kedelai itu dan berdoa memohon mujizat."Aku tahu tidak ada yang mustahil bagiMu Tuhan. Tolong aku supaya kedelai ini menjadi tempe dan bisa dijual, karena ini satu-satunya mata pencaharianku. Kasihanilah aku Tuhan. Amin."

Kali ini ia membuka bungkusnya dengan hati-hati sambil berharap akan terjadi mujizat. Wanita itu terbelalak. Ternyata isi bungkusan itu masih kedelai yang belum jadi. Hari semakin terang, tentu pasar sudah mulai didatangi pembeli, aku tetap harus ke sana, siapa tahu terjadi mujizat di jalan, pikir wanita tua itu. Ia berangkat dengan pengharapan agar kedelai itu berubah menjadi tempe setibanya di pasar, ia berdoa di sepanjang jalan, meminta mujizat Tuhan.

Setibanya di pasar, ia membuka sebungkus dagangannya, tetapi kedelai itu tidak berubah. Wanita itu tertunduk lesu. Tampaknya Tuhan tidak menjawabnya, tapi dalam hatinya ia masih berharap agar Tuhan melakukan mujizat.

Tiba-tiba ia dikagetkan dengan panggilan seorang ibu muda,"Bu, jual tempe kedelai setengah jadi tidak ? dari tadi saya sudah keliling tapi tidak ada yang jual tempe kedelai setengah jadi,"Wanita tua itu terkejut. Selama puluhan tahun ia menjual tempe yang sudah jadi, belum pernah ada orang yang mencari tempe setengah jadi.

Orang itu pun memborong habis semua tempe setengah jadi itu. Sebelum ibu itu pergi, wanita tua itu bertanya,"Untuk apa membeli tempe setengah jadi ?" Ibu itu menjawab,"Oh, ini untuk anak saya yang ada di luar negeri, dia ingin sekali makan tempe dari sini. Jadi kalau dikirim tempe yang sudah jadi, pasti akan busuk di sana. Jadi saya cari tempe yang setengah jadi."

MORAL CERITA :

Selalu ada alasan Tuhan yang lebih indah ketika Ia melakukan sesuatu atas hidup kita. Alasan untuk memberkati kita dengan caraNya. Alasan untuk membuat kita semakin bersandar padaNya.

(Ayub 5.9 Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan tidak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya)

Sumber: devoted

Rabu, 01 Oktober 2008

Anak Purba


Putraku bercerita padaku bagaimana putrinya, Tessa, yang baru berumur satu tahun, meminta remote televisi. Dia bilang kalau Tessa mengingatkannya pada manusia purba yang tinggal di gua, atau mungkin lebih seperti anak purba untuk cerita ini, karena tingkah lakunya yang mirip manusia purba.

Tessa terus menerus berteriak dan meminta remote televisi. Akhirnya, putraku memberikan remote itu kepada Tessa dan mau lihat apa yang akan Tessa lakukan dengan remote itu. Setelah mendapatkan remote itu, ia memencet-mencet tombol terus menerus tetapi tidak ada yang berubah.

Ia mencoba berteriak kepada remote itu, tapi tetap saja tidak ada apapun yang terjadi. Kemudian ia membenturkan remote itu dengan keras ke arah televisi, sambil berteriak semakin kencang.

Akhirnya, karena tidak ada perubahan, ia mencoba memasukkan remote itu ke dalam mulutnya. Karena tidak enak akhirnya ia berteriak ke arah remote itu terakhir kalinya dan kemudian membuangnya ke lantai. Ketika remote itu jatuh ke lantai dan menyebabkan suara yang keras, Tessa melihat ke arah puteraku lalu bertepuk tangan kegirangan. Seperti anak purba. Hehehe...

Saat aku memperhatikan tingkah laku cucuku, aku pikir itu adalah sebuah gambaran yang baik tentang kelakuan kita selama ini. Bagaimana kita seringkali berteriak-teriak ngotot meminta apa yang kita inginkan. Ok, mungkin tidak sama persis seperti yang Tessa lakukan, tetapi kita tidak jauh berbeda, bukan ?

MORAL CERITA :

Terkadang kita memaksa dengan cara kita sendiri dan kalaupun kita mendapatkan apa yang kita inginkan, hal itu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Kita coba berbagi hal untuk mendapatkan kepuasan atau kesenangan bagi diri sendiri, tapi kebanyakan hasilnya mengecewakan.

Apakah kita seperti anak purba, tanpa mengerti tujuan Allah, meminta berbagai hal untuk kepuasan sendiri. Bahkan sering memaksa Tuhan, seolah-olah tahu cara menggunakan "remote". Seperti ayah yang sayang anaknya, kadang ia membiarkan kita untuk memiliki apa yang kita mau. Mungkin untuk menunjukkan bahwa kita belum siap untuk hal itu atau untuk menunjukkan kalau hal yang kita minta itu salah.

(YAKOBUS 1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, dirturunkan dari Bapa segala terang.)