
Seorang musafir yang kemalaman meminta ijin menginap di sebuah sekolah. Tapi di sana ada peraturan, tamu yang ingin menginap harus beradu debat, bila ia menang, maka ia boleh menginap.Si guru mewakilkan pada muridnya untuk berdebat, sedangkan dirinya menunggu di luar.
Di dalam ruangan, mula mula si musafir mengangkat 1 jari dan langsung dibalas oleh si murid dengan mengangkat 2 jarinya. Selanjutnya si musafir mengangkat 3 jari. Melihat ini si murid mengepalkan tangan, lalu meninju wajah si musafir.
Dengan menahan kesakitan, si musafir keluar menemui si guru di depan, dan berkata,"Murid anda luar biasa, ketika kuangkat satu jari yang berarti Tuhan yang satu, ia membalas dengan 2 jari yang berarti , Tuhan dan Rasulnya.
Kemudian kuangkat 3 jari yang berarti Tuhan, Rasul dan Ajarannya, dia mengepalkan tangan, mengartikan semuanya adalah satu kesatuan, dan ditinjunya wajahku supaya aku ingat selalu akan hal ini, saya kalah...saya mohon diri".
Setelah si musafir pergi, si murid datang dan menemui guru sambil marah-marah dan berkata"Guru, betapa kurang ajarnya tamu tadi.
Pertama-tama ia melihat mataku yang cuma satu, ia mengejekku dengan mengangkat 1 jarinya. Tetapi, kusabarkan diri, sebagai tamu, kuhormati dia dengan mengangkat 2 jari, memuji dua matanya yang sempurna. Lagi-lagi ia mengejekku, menunjukkan 3 jari, berarti jumlah mata kami berdua yang cuma tiga, hilang kesabaranku, kutinju dia !!!".
MORAL CERITA :
Sering kita berpikir, mengapa orang lain sulit memahami diriku ? Tak mau mengerti keinginanku ? Padahal kita sudah menunjukkan perasaan dengan berbagai cara dan tanda.
Eit....! Jangan mudah menyalahkan orang lain dulu. Mimik bisa menipu, sikap bisa berbeda dengan perasaan. Apakah orang tertawa pasti gembira ? Apakah orang menangis pasti bersedih ? Semua tak pasti. Setiap orang hanya bisa menduga dan menebak.
Jadi kalau mereka keliru dalam menginteprestasi sebuah kondisi, wajar-wajar saja. Hanya pikiran yang sempit yang menganggap dirinya bisa dipahami sepenuhnya oleh orang lain, bagaimana mengharap orang lain memahami diri kita sedangkan kita sendiri pun belum tentu bisa memahami diri sendiri !
Jadi, mulailah membuka komunikasi, jujur dan rendah hati. Sehingga, orang lain bisa mengerti dan memahami.
Di dalam ruangan, mula mula si musafir mengangkat 1 jari dan langsung dibalas oleh si murid dengan mengangkat 2 jarinya. Selanjutnya si musafir mengangkat 3 jari. Melihat ini si murid mengepalkan tangan, lalu meninju wajah si musafir.
Dengan menahan kesakitan, si musafir keluar menemui si guru di depan, dan berkata,"Murid anda luar biasa, ketika kuangkat satu jari yang berarti Tuhan yang satu, ia membalas dengan 2 jari yang berarti , Tuhan dan Rasulnya.
Kemudian kuangkat 3 jari yang berarti Tuhan, Rasul dan Ajarannya, dia mengepalkan tangan, mengartikan semuanya adalah satu kesatuan, dan ditinjunya wajahku supaya aku ingat selalu akan hal ini, saya kalah...saya mohon diri".
Setelah si musafir pergi, si murid datang dan menemui guru sambil marah-marah dan berkata"Guru, betapa kurang ajarnya tamu tadi.
Pertama-tama ia melihat mataku yang cuma satu, ia mengejekku dengan mengangkat 1 jarinya. Tetapi, kusabarkan diri, sebagai tamu, kuhormati dia dengan mengangkat 2 jari, memuji dua matanya yang sempurna. Lagi-lagi ia mengejekku, menunjukkan 3 jari, berarti jumlah mata kami berdua yang cuma tiga, hilang kesabaranku, kutinju dia !!!".
MORAL CERITA :
Sering kita berpikir, mengapa orang lain sulit memahami diriku ? Tak mau mengerti keinginanku ? Padahal kita sudah menunjukkan perasaan dengan berbagai cara dan tanda.
Eit....! Jangan mudah menyalahkan orang lain dulu. Mimik bisa menipu, sikap bisa berbeda dengan perasaan. Apakah orang tertawa pasti gembira ? Apakah orang menangis pasti bersedih ? Semua tak pasti. Setiap orang hanya bisa menduga dan menebak.
Jadi kalau mereka keliru dalam menginteprestasi sebuah kondisi, wajar-wajar saja. Hanya pikiran yang sempit yang menganggap dirinya bisa dipahami sepenuhnya oleh orang lain, bagaimana mengharap orang lain memahami diri kita sedangkan kita sendiri pun belum tentu bisa memahami diri sendiri !
Jadi, mulailah membuka komunikasi, jujur dan rendah hati. Sehingga, orang lain bisa mengerti dan memahami.
